sejarah asuransi syariah kesehatan konvensional dunia di indonesia

Sejarah Perkembangan Asuransi di Dunia Hingga Indonesia

Perkembangan sejarah Asuransi di Dunia diantaranya di Negara Indonesia dimana asuransi ini sesuai perkembangan zaman muali dari sebelum masehi, abad pertengahan, sesudah abad pertengahan, dan abad ilmu dan teknologi dimana asuransi telah berkembang dari mulai asuransi konvensional, laut, jiwa, kesehatan, ketenaga kerjaan, syariah, dan kerugian kebakaran gedung jenis asuransi ini sudah berkembang yang telah di atur oleh undang-undang, silahkan di simak dalam artikel ini perkembangan asuransi.

1. Sebelum Masehi

Sejarah Perkembangan asuransi sebelum masehi yaitu pada zaman kebesaran Yunani kuno dibawah kekuasaan Alexander The great (356-323 BC) dimana seseorang pembantunya memerlukan banyak sekali uang untuk membiayai sebuah pemerintahanya pada wakti itu. Untuk mendapatkan uang tersebut Antimenes iya mengumumkan kepada seluruh pemilik budak supaya mereka dapat mendaftarkan seluruh budak-budak yang dimilikinya dan membayar sejumlah uang stiap tahunya kepeda Antimenes. Sebagai imbalannya, Antimenes memberikan janji kepada mereka jika ada budak yang melarikan diri, maka dia akan memerintahan supaya budak itu segera ditangkap, atau jika budak tersebut tidak dapat ditangkap, dibayar dengan jumlah uang sebagai gantinya.

Jika kita telaah dengan sangat teliti sekali, uang yang diterimaoleh Antimenes dari seluruh pemilik budak itu adalah semacam premi yang di terima dari tertanggung. sedangkan kesanggupan Antimenes untuk menangkap budak yang melarikan diri atau membayar ganti kerugian karena budak yang hilang adalh semacam sebuah resiko yang di terima oleh pemilik budak yang di pukul oleh penanggung. kita dapat melihat kejadian ini adalah mirip eklai dengan sebuah perjanjina suransi kerugian. Demikianlah kesimpulanya yang kita dapat ambil dari uraian Scheltema dalam bukunya yang berjudul Verzekeringsrecht.

Selanjutnya, Scheltema menjelaskan bahwa pada zaman Yunani banyak seklai orang-orang yang meminjamkan uang nya kepada pemerintahan yaitu di kota-kota praja dengan di berikan janji bahwa pemilik uang tersebut kan di beri bunga setiap bula nya hingga mereka wafat dan bahkan setelah wafat mereka akan diberikan biaya pemakaman atau penguburan, Jadi kalau kita lihat dan amati perjanjian ini seperti perjanjian sebuah asuransi jiwa. Bedanya disini hanya pada sebuah pembayaran premi atau santunan yang diberikan. Pada asuransi jiwa, tertanggung yang akan membayar premi setiap bulan nya, bila terjadi kematian atau meninggal dunia dan asuransi jiwa berakhir  tanpa kematian, tertanggung memperoleh pembayaran dari penanggung. Pada pinjman Pemerintah Kotopraja, Pemerintah membayar bunga setiap bulan kepada pemilik uang serta biaya penguburan jika pemilik uang meninggal dunia.

Perjanjian ini terus berkembang pada zaman romawi kuno sampai kira-kira tahun ke – 10 sesudah Masehi. Pada waktu itu dibentuk semacam perkumpulan. Setiap anggota perkumpulan wajib membayar uang pangkal dan uang iuran bulanan. Apabila ada anggota perkumpulan yang meninggal dunia, perkumpulan trsebut memberikan uang bantuan atau biaya penguburan pemakaman anggota perkumpulan yan diberikan kepada ahli warisnya. Apabila ada anggota yang pindah ke tempat lain, perkumpulan memberikan bantuan baiaya perjalanan. Apabila ada anggota perkumpulan yang mengadakan upacara tertentu, perkumpulan tersebut meberikan bantuan baiaya upacara tersebut.

Maka dari itu jika kita telaah dan teliti, maka kita dapat pahami bahwa sebuah perjanjian-perjanjian yang dibuat tersebut merupakan peristiwa hukum permulaan dari perkembangan asuransi kerugian dan asuransi jumlah.

2. Abad Pertengahan

Ada beberapa peristiwa hukun yang telah kami uraikan di atas dan selelu berkembang pada abad pertengahan. Di Inggris ada sekelompok orang yang memiliki profesi dengan jenis yang sama mereka membentuk satu perkumpulan biasanya mereka menyebutnya dengan gilde. Sebuah perkumpulan ini mengurus seluruh anggota kelompok jika dari salah satu dari mereka terkena musibah seperti kebakaran rumah, nah dari gilde ini akan meberikan berupa santunan uang yang di berikan kepada anggota yang terkena musibah kebakaran yaitu dana yang di ambil dari gilde yang terkumpul dari iuran anggota tersebut. Pernjanjian seperti sering terjadi pada abad ke-9 dan jika disamakan dengansekarang sangat mirip sekali dengan asuransi kebakaran rumah.

Pernjanjian ini selalu berkembang seperti di negara Denmark, Jerman, dan negara-negara eropa lainnya hingga abad ke-12 lalu lanjut pada abd ke-13 dan ke-14 perdangan mulai berkembang salah satunya perdagangan laut. Akan tetapi, tidak sedikit sekali yang selalu datang sebuah ancaman kepada pedang laut biasanya dalam perjalanan melalui laut. Ancaman yang datang muali terpikir oleh para pedagang laut waktu itu mereka selalu mencari solusi yang dapat mengatasi masalah dan kerugian yang ditimbulakn oleh laut. Dari sini kita tahu asal mula perkembangan asuransi kerugian laut.

Kenapa harus ada asuransi laut ini adalah salah satu kepentingan untuk mereka dalam perjalanan perdagangan melalui laut, biasanya pemilik kapal akan meminjam uang dari pemilik uang dengan malkukan pernjajian dengan bunga tertentu, sedang kapal dan barangnya mereka itu akan di jadikan sebuah jaminan. Dengan persyaratan dan ketentuan yang berlaku dalam perjanjian tersebut, apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti kapal dan muatanya tenggelan dan rusak, maka uang dan bunganya tidak usah di bayarkan kembali.  Akan tetapi, jika kapal dan barang muatanya mendarat dengan selamat sampai tujuan, uang yang dipinjamkan itu harus di kembalikan beserta dengan bunganya. Biasanya ini disebut dengan bodemerij. Dengan demikian, kita dapat pahami bahwasanya bunag yang dibayarkan itu seoalah-olah berfungsi sebagai premi asuransi, sedangkan pemilik uang sebagai pihak penanggung resiko kehilangan uang jika dalam hal ini terjadi bahaya yang menimbulkan sebuah kerugian yang di terima oleh pedang yang melalui jalur laut. Jadi, uang yang hilang itu sebagai ganti rugi kepada pemilik kapal dan barang daganganya.

Waktu itu agama nasrani melarang narik bunga mereka menggapnya sebagi riba, maka di situ ada pola perjanjian tersebut di rubah dalam hal perjanjian pinjaman uang tersebut, pemberi pinjaman uang tidak perlu memberikan sejumlah uang lebih dulu kepada si pemilik kapal dan barang daganganya atau muatan kapal. Tetapi jika terjadi bahaya yang menimpa ke kapal dan barang dagannya, barulah si penjamin memberikan uang ke pada si pemilik kapal berupa sejumlah uang yang tertulis dalam perjanjian tersebut. Namun, permulaan berlayar pemilik kapal dengan barang muatanya perlu menyetor sejumlah uang kepada pemberi pinjaman sebagai pihak yang menanggung. Dengan syarat dan ketentuan jika tidak terjadi sebuah peristiwa yang merugikan, maka uang telah di setor oleh pemilik kapal maka uang tersebut hak milik pemberi pinjaman. Jadi, disini kita bisa paham bahwasanya uang setoran tersebut sangat mirip sekali dengan premi asuransi saat ini yang ada di Indonesia.

Ok, disini kita sudah paham bahwa zaman dahulu di abad pertengahan ini sudah ada asuransi kerugian pada angkutan barang di laut. Asuransi ini berkembang sekali terutama pada wilayah negara-negara yang memiliki pantai dan berkepulauan (coastal countries), seperti negara eropa Inggris, Belanda, Parancis, Jerman, Denmark dan mungkin juga negara tercinta kita Indonesia negara yang berkepulauan.

3. Sesudah Abad Pertengahan

Sesudah abad pertengahan ini asuransi laun dan asuransi kebakaran rumah atau bangunan juga mengali perkembangan yang sangat signifikan terutama di negara-negara eropa barat, seperti negara Inggris berkembang pada abad ke-17, kemudian di ikuti oleh negara lainya yaitu prancis pada abad ke-18, dan terus berkembang ke negara eropa lainya seperti Belanda. Perkembangan asuransi ini sangatlah pesat di negara eropa karena asuransi laut disana dapat di maklumi karena negara terbut waktu itu banyak sekali kapan dan para pelaut yang pergi berlayar dari negara ke negara lainya menyebarangi lautan (overses countries) terutama pada wilayah jajahan mereka.

Pada waktu dibentuknya code de commerce Prancis awal abad ke-19, perasuransian laut dimasukkan dalam kodifikasi. Pada waktu pembentukan wetboek van koophandel nederland, di samping asuransi laut maka dimasukkan pula asuransi kebakaran bangunan atau rumah, asuransi jiwa, dan asuransi hasil panen, sementara di negara Inggris, asuransi laut telah di atus secara khusus oleh undang-undang asuransi laut (Marine Insurance Act) yang pada waktu itu di bentuk pada tahun 1906. Berdasarkan asas konkordansi, weboek van koophandel Nederland dan di berlakukan pula di Hindia Belanda melalui Staatsblad No 23 Tahun 1847.

4. Abad Ilmu dan Teknologi

Masuk pada abad ke-20 perkembangan Ilmu dan teknologi begitu pesat dan berdampak positif pada perkembangan usaha bidang salah satunya asuransi. Di abad ini kegiatan bidang usaha tidak hanya asuransi. Banyak sekali pembangunan di dalam bidang prasarana transportasi sampai ke daerah-daerah pedalaman mendorong perkembangan pembangunan prasarana transfortasi darat, laut dan udara serta dapat meningkatkan mobilitas penumpang yang sangat tinggi dari satu daerah ke daerah lainya begitu juga mereka yng ingin melintas ke negara lain. Ancaman mobiltas perpindahan dari daerah satu ke daerah lain juga semakin tinggi, sehingga kebutuhan perlindungan terhadap barang muatan dan jiwa penumpang lainya juga meningkat. Keadaan ini mendorong perkembangan perusahaan asuransi kerugian dan asuransi jiwa serta asuransi social (social security insurance).

Munculnya pembangunan ekonomi di tandai pembangunan di bidang ekonomi dan memerlukan banyak sekali modal memalui kredit untuk pembanguna kantor, tenaga kerja yang membutuhkan jaminan perlindungan dari ancaman bahaya kemacetan transportasi, kecelakaan kerja, kebakaran gedung perkenatoran, dan asuransi tenaga kerja. Satelit komunikasi juga ikut berkembang ini juag memerlukan perlindungan dari ancaman kegagalan peluncuan satelit dan menyebabkan kegagalan fungsi pada satelit, ini juga wajib diasuransikan. Indonesia juga pernah mengalaminya disaat peluncuran satelit palapa B2 waktu itu yang gagal masuk ke garis orbit. Karena terjadi kegagalan tersebut Indonesia mengklaim dan mendapat ganti rugi dari salah satu perusahaan asuransi yang bersangkutan dimana satelit itu di asuransikan.

Perkembangana usaha perasuransian selalu mengikuti perkembangan ekonomi masyarakat, jika makin tinggi pendapatan masyarakat, makin mampu masyarakat dan memiliki harta kekayaan maka dari itu masyarakat juga butuh perlindungan asuransi untuk mengatasi ancaman dari bahaya. Karena pendapat masyarakat meningkat dan tinggi. Dengan demikian, perusahaan asuransi juga ikut berkembang. Semakin berkembang sebuah negara maka akan banyak sekali perusahaan asuransi yang berdiri di sekitar masyarakat terutama di negara Indonesia  diantaranya asuransi kerugian, asuransi kesehatan, asuransi jiwa, asuransi kebakaran dan asuransi sosial yang mana semua ini telah di atur oleh undang-undang. Khusus asuransi sosial bukan berdsarakan dari perjanjian, melainkan di atur dengan undang-undang sebagai asuransi wajib.